Terus ku telusuri pesisir pantai, sambil ku hitung kerikil kerikil yang tak pernah usai. Sembari ku lirik burung burung berkejaran bahagia di kejauhan. Dan ku hentikan jejak saat ku rasa riak riak air laut membasahi kaki kaki yang tak beralas. Ku tatap lekat pada ombak ombak yang datang silih berganti menerpa butiran pasir yang tak pernah merasakan perih.
Ku pejam kan mata saat ku ingat , hati ku begitu rapuh dan goyah. Badai itu datang silih berganti menerpa hidup , walau aku tau gelombang ombak tidak selalu datang dengan keras,terkadang ia hadir dengan perlahan. Jiwa ku tak sekuat pasir pasir di pesisir, kalbu ku tak setegar batu karang di tengah lautan.
Ku alihkan pandangan ku pada mentari yang mulai tengelam , hadirkan siluet penuh pesona. Tak ingin senja itu berakhir saat ku lihat bayang bayang itu hadir di antara arak arakan awan di langit senja. Tak mampu ku bendung kristal kristal bening merembes dari bening bola mata . Bila ku ingat akan diri mu yang selalu dalam penantian yang tak henti.
Jika masih dapat ku sampaikan meski hanya dapat ku kirim melalui angin angin yang berhembus, sebait kata maaf ku bahwa ku tak mungkin menjadi bidadari bermata jeli mu , kita tak mungkin menjadi butir butir pasir dan deburan ombak , kita tak akan pernah bisa saling berkejar kejaran seperti camar camar yang menemani pantai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar